This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 30 September 2026

Menuju Oktober 2026

 Bagus Styoko Purwo

Satu hari sebelum September berakhir saya terngiang inti nasehat mbah yai Maium Zubair. Intinya begini jadikan bulan Oktober sebagai bulan yang banyak perubahan, peningkatan pekerjaan. Maksudnya yang belum bekerja jadi dapat kerja, yg sudah bekerja makin bagus, yang telah berpenghasilan jadi tambah banyak, yang kekurangan jadi tercukupi. Saya rasa ini kesempatan untuk meningkatkan taraf ekonomi diri saya sebagai kepala rumah tangga, yang berdampak pada kesejahteraan orang tua.


Tulisan ini sebagai pedoman ikhtiar saya meningkatkan kompetensi diri sebagai pengajar dan saya berhasrat mendapatkan penghasilan tambahan dari menulis. Saya bisa menulis tapi belum bisa rutin dan menulis yang tepat guna. Maksud saya adalah menulis yang membawa keuntungan material juga. Menulis memang membuat saya menjadi tahu hal-hal baru. Bahan baku menulis adalah pengetahuan. Maka sebelum saya menulis, saya harus menyiapkan bahan baku pengetahuan, atau ilmu yang relevan. Saya harus membaca.

Saya niat bertabarukan bln Oktober 26 dan bertawasul kepada mbah yai Maimun Zubair, yang dengan wasilah itu saya mendapatkan keutamaan-keutamaan bulan Oktober 26.

Di bulan Oktober 26 yang harus terjadi peningkatan signifikan di diri saya:

1. Bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah-ibadah harian: sholat lima waktu, wirid tqn, syadzilliyah, membaca al quran minimal setengah juz.

2. Menulis jurnal harian sebagai refleksi dan latihan berfikir kreatif.

3. Membaca tuntas artikel-artikel harian, buku-buku pilihan. 

 1. Minggu pertama : Antologi Cerpen Puthut EA - saya niat mempelajari dan meniru cara membuat cerpen beliau. Dana mengirimkan cerpen-cerpen saya ke media-media yang beliau kirim.

2. Minggu kedua : Antologi Esai Puthut EA - saya niat membuat esai-esai pendek segaya dengan beliau. Dan rutin menulis di terminal Mojok.co

3. Minggu ketiga : Antologi Cerpen AS- Laksana - saya niat membuat cerpen seperti mas sulak dan mengirimkannya ke media-media yang beliau kirim.

4. Minggu keempat : Latihan menulis sebagai refleksi AS Laksana - saya niat menuntaskan itu dan menulis harian saya semakin lancar.

Hari ini kesempatan saya menguji coba melaksanakan kegiatan di 1 Oktober 26

saya buka dengan meniatkan diri melakukan itu semua dgn wasilah al fatehaa tiga kali di siang ini dan membaca ratibul kubro.

4. Mendapatkan penghasilan dari menulis di media 

 1. Mojok.co 500k

2. Jawa pos 500k

3. Pikiran Rakyat 500k

4. Media Indonesia 500k

5. Kompas 1000k


Pembiasaan Membaca untuk tgl 01 Oktober 26

1. Membaca terminal mojok, 2. Membaca esai-esai mojok.co

Selasa, 16 Januari 2024

Novelet Dya #1


Cerita-cerita ini akan saya selesaikan di sela-sela mengajar di kelas. Menggunakan perangkat hp dan mengandalkan tiga frase yang saya kembangkan hingga mencapai 400 kata per hari dengan target akumulasi 12.000 kata dalam sebulan. Semoga hari-hari saya mudah untuk menyicil cerita ini per bagiannya.

Cara saya melancarkan ide tertuang dalam sebuah tulisan adalah dengan warming up menulis santai. Saya perlu semacam rasa panas dalam diri agar emosi positif berkarya saya muncul. Seperti atlit yang akan latihan/bertanding -di awali dengan olah gerak-gerak ringan, lalu berkeringat dan berubahlah suhu badan. Maka saya kondisikan suhu hasrat menulis saya siap.
 
Saya akan coba menulis bagian pertama dengan frase "Tentang baiknya itu seperti apa." Saya masih bingung akan memulai dengan kalimat pembukaan apa, akan dialurkan ke mana, dan berakhir seperti apa, saya baru akan memulai. 
Kemampuan menulis saya belum ada yang mengagumkan. 

Kalau ukurannya karya-karya menginsprasi, mengalami cetak ulang, saya belum ditingkatan itu. Paling membahagiakan adalah ketiga naskah kumpulan puisi saya lolos kurasi cetak buku antologi penerbit kecil, menerima kabar itu saya bahagia sekali. Dan yang terkenang buat saya adalah buku solo saya dan buku-buku antologi para kontributor event tertentu, saya pandangi buku-buku yang tertera nama Bagus Styoko Purwo, di rak-rak Gramedia dan Gunung Agung. Pernah suatu kali saya search nama saya di komputer pencarian buku-buku, dan saya senang nama saya tampil dengan jumlah buku yang habis. Ya Alloh bahagia itu cukup mudah ya.

Tulisan pemantik ini saya batasi sampai satu lembar. Apa yang saya mau tulis saya terangkan di selembar ini. Dengan memadatkan yang saya tuliskan ini akan berdampak di novelet yang sedang saya upayakan ini.

Apa yang sebaiknya kita pikirkan? Saya berfikir yang terjangkau. Memikirkan yang mungkin di dapat. Menghindari dr berfikir yang sulit. Kesulitan yang terus dipikirkan menghambat pencapaian-pencapaian diri. 

Saya ingin novelet ini selesai dalam sebulan. Diendapkan seminggu. Saya baca ulang. Lalu saya kirim ke penerbit di Jogja. Saya kok ingin setiap karya saya terbit di penerbit2 yg berbeda. 

Untuk ini kesediaan waktu saya harus lebih dari cukup. Saya harus duduk minimal setengah jam untuk bagian yang harus selesai di hari yang sama. 

Saya perlu membaca sebuah kumcer karya mas Puthut Ea. Saya merasa novelet ini senafas dengan karya2nya. Saya meminjam cara dia bercerita dan saya menikmati nuansa interaksi dengan Laudya -tokoh yg saya ceritakan. 

Semoga lancar dan saya diberi kemampuan menulis yang bagus dan novelet ini berkah dan bermanfaat.

Bekasi, 16 Jan 24 -SMK Ananda

Selasa, 27 Desember 2022

#1. Membangkitkan Daya Kreatif

 Oleh Bagus Styoko Purwo

Tulisan pertama ini semoga akan memacu saya untuk membuat tulisan kedua sampai ketujuh. Kenapa kok hanya sampai ketujuh? Karena materi latihan menulis gratis dari mas Sulak yang saya dapatkan hanya tujuh hari. Hari berikutnya berlaku kelas yang berbayar. Saya belum bisa mengikuti kelas yang berbayar.

Materi pertama berjudul Memberdayakan Jin Ifrit di Dalam Kepala

Kelas menulis sebagai meditasi bukan secara khusus untuk mereka yang ingin memperoleh kedamaian. Mungkin karena belakangan ini sulit sekali mendapatkan kedamaian semoga cara menuliskan apa saja yang tertahan di hati, tertumpuk di otak mudah diturunkan dalam bentuk tulisan. Motif saya mengikuti kelas ini untuk melancarkan kemampuan menulis lepas. Menulis selancar berbicara, itu dambaan saya. Saya bekerja sebagai guru, dan kemampuan menulis dengan baik menambah kompetensi saya. Saat ini tidak jarang guru yang senang menulis, apalagi terampil sekali menuangkan gagasannya. Nah, saya tidak mau menjadi guru yang tidak bisa menulis dengan baik. 

Menulis dengan baik tergantung teknik yang digunakan. Gemar membaca saja tidak cukup. Latihan menuangkan gagasan dalam beberapa paragraph menunjang kemudahan menulis. Mas Sulak menyarankan agar meluangkan waktu 15 menit hingga 20 menit per harinya. Ia pinta agar gunakan stopwatch. Waktu penyelesaian tidak menjamin tulisan baik, tapi setidaknya terhindar dari kebingungan mau menulis apalagi.

Di latihan menulis yang pertama ini saya coba menuliskan tentang kegiatan saya sehari-hari di sekolah.

Saya tidak memakai stopwatch. Saya paksa diri ini untuk nyaman menuangkan isi kepala, menekan papan keyboard, dan memandang layar ketikan. Saya ingin sampaikan dengan agak terbawa gaya menulisnya mas Sulak. Sebelumnya saya terbiasa menggunakan gaya menulis esay mas Puthut EA.









Senin, 14 November 2022

Sedang Bingung

 Oleh Bagus Styoko Purwo

Bulan ini sedang tidak baik untuk saya jalani. Saya seperti tidak berkembang. Kegiatan harian saya begitu jelas. Pagi sampai sore di sekolah. Di hari-hari tertentu malamnya di kampus. Masih seputar dunia pendidikan. Saya merasa ada yang kurang pas menjalani rutinitas. 

Kalau dihitung mundur dari tahun 2007 sampai sekarang, ukuran waktu sepanjang itu mestinya saya bisa memanen hasil apa-apa yang telah saya tanam. Emang saya sudah menanam apa? Idealnya tidak lagi payah.

Saya rajin mengikuti postingan motivasi, challenge di sosial media. Banyak yang serap. Coba saya praktekan. Semoga dengan begitu ada semacam dorongan kuat bahwa saya masih ditempat yang sama. Saya ingin sukses di bidang saya ini. Apa iya pendidikan bidang saya?

Tahun ini usia saya jalan tiga puluh tujuh tahun. Nanti di November 2023 pas ke-37. Mengingat batas awal keberhasilan nampak di usia 40, artinya jatah penguasaan, eksplorasi saya hanya empat tahun -kalau dirunut dari usia 36 tahun saya. 

Empat tantangan nyata saya di usia yang tidak lagi santai.

1. Mesti mencintai apa-apa yg saya kerjakan.

Saya masih sering gagal di dunia yg saya pilih. Sering menyepelekan. Tanpa persiapan. Baru-baru ini aja saya refleksi. Mencintai pekerjaan dengan menyandingkan motivasi diri seperti bsa sata jalani. 

Simpelnya, saya mengajar di sekolah dan di kampus. Motivasinya di usia 44 nanti saya adalah doktor manajemen/akuntansi yg produktif mengembangkan salah satu dari kedua keilmuan itu. 

Wujud dari mencintainya adalah saya membuat perencanaan yang realistis dan berkala. Tahun 2022 Bln Nov: menyiapkan pengetahuan, keterampilan belajar untuk masuk kelas doktor. Bln Des: menulis buku untuk persiapan beasiswa BIP. 

Saya pernah merasa pede, yakin bahwa keterampilan menulis saya bsa membiayai pendidikan doktoral. Hasilnya Zoooonkkk.. mimpi yang terus di kepala. Hahaha..

Bln Jan 23: mengikuti seleksi di PTN yg saya pilih. Saya sreg di Program S3 Ilmu Manajemen UNJ. Langkah nyatanya ya perdalam TOEFL, TKDA. Saya bukan org cerdas apalagi pinter. Jam belajar berikutnya bakal panjang dan gila-gilaan.

2. Memperdalam hal/pekerjaan yang dicintai.

Dalam hati saya merasa yakin menjadi penulis partime yg produktif. Tulisan-tulisan saya menyebar di berbagai media. Dgn begitu akan berpengaruh terhadap penghasilan saya per bulan. Penghasilan mengajar bikin spot jantung. Saya masih gagal memenuhi nafkah ideal keluarga. Mungkin dgn tekun menulis akan menaikkan taraf kesejahteraan saya dan keluarga.

3. Mencoba banyak peluang.

Karir mengajar saya di kampus tetap di Jakarta sedang tdk baik. Dua tahun lebih saya tidak mengajar. Berdampak jg ke penghasilan bulanan dan jenjang dosen berikutnya. Sempat kecewa, tapi tidak lama. Saya mendaftar kuliah online di UI untuk beberapa matakuliah yang akhirnya bikin saya kualahan. Akhirnya saya pilih satu matkul saja: stastistik. Saya ingin kuasai full dan ini matkul batu lemparan mana tahu saya expert dan mengajar di UI. Masih tersisa beberapa pekan untuk mengejar ketertinggalan materi. Saya mesti semangat lagi.

4. Investasi besar-besaran untuk sesuatu yg bernilai panjang

Nilai panjang itu 

Sabtu, 19 Maret 2022

#1 Permulaan Menulis

 Oleh Bagus Styoko Purwo

Setelah pagi tadi saya melakukan pemanasan menulis dan kini saatnya saya memulai menulis secara maraton. Saya menjadikan Buku Catatan untuk Calon Penulis sebagai pedoman membiasakan menulis tanpa terpengaruh mood, menulis di mana pun hingga menulis cepat. 


Dalam buku itu terbagi dua puluh tagar disertai penjelasan pendek. Seolah si penulisnya sedang memberikan pendahuluan sebelum meminta si peserta pelatihan melaksanakan arahan darinya. Saya pikir sih benar iya juga. 

Pada #1 ia menuliskan: Sesungguhnya tidak ada penulis hebat. Yang ada hanyalah penulis yang terlatih dan penulis yang beruntung. Yang pertama bisa kita usahakan. Yang kedua, bukan hanya tidak bisa kita usahakan, tapi juga tidak perlu kita pikirkan. 



Pesannya pendek. Jika ia ujarkan secara lisan mungkin tidak berhenti di situ. Saya paham maksudnya, ia meminta agar yang ingin menjadi penulis setidaknya capailah di tahapan terlatih. Apa pun yang terlatih pasti ditempuh dengan serangkaian proses yang nisbi satu sama lain berbeda. 

Menulis akan terasa sulit bagi yang belum terbiasa. Berbicara di muka umum bisa bikin gugup seseorang. Meski dengan naskah jika tanpa ketenangan diri kata-kata yang meluncur seakan mampet. Menulis pada awalnya perlu semacam pemancing.

Saya ingat strategi tiga kata yang dibagikan mas Sulak. Penulis tidak sedang ada ide sekalipun, separagraph dengan cara itu ide muncul dengan sendirinya. Misalkan Pulpen Bapak Hilang. Untuk sebuah tulisan fiksi tiga kata itu cukup bermanfaat. Mengembangkan menjadi sebuah cerita mini untuk tiga kata itu belum bisa saya tuntaskan di tulisan ini. Semoga nanti ya.

Menjadi penulis yang terlatih ibarat di bidang olah raga maka ada kurikulum yang menghantarkan atlit tertentu terlatih. Ia perlu mengenal gerak otot kaki, otot tangan. Bagaimana mengendalikan napas. Mengontrol tenaga agar sampai dipenghujung pertandingan dsb. Setiap bidang yang membentuk keahlian maka disediakan tahapan-tahapannya.

Menulis pun demikian. Saya senang menulis. Pernah mengikuti lomba menulis. Pernah mendapatkan hadiah hasil lomba menulis. Pernah mengikuti pelatihan menulis di Kampus Fiksi non Fiksi Diva Press, Jogja. Kesan mengikuti itu saya merasa kalau saya ada bakat menulis. Masuk dalam peserta pelatihan itu saingannya seluruh Indonesia. Bergengsi pokoknya.

Untuk terampil menulis maka kita perlu terus menulis secara spontan. Menulis dengan beragam tema. Mengikatkan diri dengan tema-tema terdekat kita memudahkan kita menyelesaikan sebuah tulisan. Atau dengan mengatur jumlah cerita yang dipublikasi di media sosial. Mereka yang rajin posting cerita di sosmed teknis berceritanya cukup memadai. 

Saya menjaga stamina menulis dengan menulis bertema di ig yang terhubung ke wall fb. Blog kali ini saya tempatkan sebagai kumpulan tulisan saya. Menyimpan di blog saya anggap sebagai tabungan keterampilan diri yang sewaktu-waktu mudah ditemukan. Apalagi bidang profesi saya mengajar. Kemampuan menulis baik dan tekun membaca selalu diperlukan.

Penulis favorite saya adalah penulis buku panduan latihan ini. Mas Puthut Ea. Ia terkenal sebagai cerpenis. Dan belakangan ini banyak menulis esai. Gaya menulisnya mudah saya ikuti. Bukan untuk meniru. Saya juga mengikuti cara ia bercerita dan mengemas alur kalimat yang memikat. 

Setiap ia bagikan pengisahan di ignya saya baca baik-baik. Ia mengambil caption dengan arah yang tidak terduga. Bidikan-bidikan kameranya menakjubkan. Ia dengan mudahnya mendapatkan angel gambar yang oke. Selama saya membaca tulisan-tulisannya kemudahan ketika saya menulis seperti telah melewati proses menulis yang panjang.

Saya tekankan di sini perlunya sosok penulis favorite untuk membantu kelancaran menulis. Ia penulis pertama yang saya jadikan panutan berkarya. Selanjutnya, saya sering membagikan postingan fb mas Sulak. Ia sering memberikan kiat menulis. Artikel dari penulis asing. Ia juga membuka kelas menulis cerita. Kapan waktu saya ingin bergabung di kelasnya. Harganya lumayan dan pastinya materi-materi yg disampaikan berkelas.

Mas Sulak juga menerbitkan buku latihan menulis cerita. Saya baca semua pembahasan di dalamya. Hanya saja belum saya praktekan. Mungkin setelah buku ini selesai, saya lanjut ke buku mas Sulak. Baik mas Puthut Ea dan mas Sulak, gaya menulis mereka berkarakter. Saya membaca tulisan mas Puthut seperti ia sedang berbicara. Membaca cerpennya mas Sulak seperti saya membaca terjemahan cerpen dari bahasa asing. Mereka saya jadikan mentor tidak secara langsung. Hanya berbekal karya aplikatif mereka saya siap menyongsong sebagai penulis cerita. 

Berkisah akan menjadi kebiasan baru saya. Menyelesaikan tulisan tidak bisa lagi saya tunda. Menghadiahi diri berupa kumpulan tulisan atau buku bertema akan menjadi pengalaman berharga saya, khususnya di tahun 2022. 

Mencoba tantangan baru dengan menjadikan setiap buku latihan menulis sebagai bahan pemicu premis bercerita. Tahap pertama, saya esais yang mudah menggarap tema humaniora. Tahap kedua, saya cerpenis yang meleburkan diri ke kehidupan sehari-hari. Semua itu saya niatkan sebagai bukti kesungguhan diri menempa diri dan mensyukuri nikmat berkehidupan.

Babelan, 19 Maret 2022. 22:19 WIB

Mengembalikan Semangat

 Oleh Bagus Styoko Purwo

Mengembalikan semangat yang redup bukan perkara mudah. Saya sering gagal. Selalu saya ulangi membuat rencana di sebuah buku/kertas. Merinci hal-hal yang bisa saya tekunin selama sebulan, sepekan, atau pencapaian dalam sebulan ke depan. Namun masih di awal perjalanan tidak berjalan lancar. 



Hari ini sabtu, tertanggal 19 Maret 2022, keinginan saya memperbaiki kegagalan melatih diri muncul tiba-tiba. Saat membersihkan rak buku, membebaskan buku-buku dari debu harian, memisahkan buku-buku pilihan untuk sepekan, berbarengan saya rinci kegiatan yang bisa saya tekuni selama sepekan.

Saya ingin menguji ketahan diri di hari pertama ini. Bisa tidak saya jalani semua rencana dengan baik, tertib. Berikut rencana tertulis selama sepekan.

Hari pertama

Pagi

1. Membaca dan menyelesaikan buku catatan untuk calon penulis karya Puthut Ea.

2.  Pengantar akuntansi BMP UT.

Siang

1. Jurnal komunikasi masa.

2. Akuntansi perpajakan

Malam

1. Perilaku organisasi

2. Materi Mira Institut


Hari kedua

Pagi

1. Teori Akuntansi

2. Manajemen keuangan

Siang

1. Petunjuk praktis penelitian ilmiah menyusun karya ilmiah

2. Berburu honor dengan artikel

Malam

1. Latihan psikotes junior

Pembagian aktivitas belajar yang saya pelajari dari youtube akan mempermudah pelaksanaannya. Saya coba hari ini.

Tulisan ini saya anggap sebagai prolog latihan bertanggung jawab atas apa yang telah saya tuliskan. Mengupayakan suatu sikap yang baru perlu pembiasaan. Untuk itu saya menjadikan pedoman ustadz Yusuf Mansur melatih sikap istiqomah selama tiga hari. Lanjut seminggu, lanjut dua minggu, sampai di hari keempat puluh atau empat puluh satu hari. Kalau sebulan lebih sepuluh hari kita terbiasa dengan dispilin tertentu maka itu telah menjadi kebiasaan dan berubah menjadi karakter. Nah mengumpulkan karakter berkulitas menjadikan hebat di diri kita. Itu lah yang saya idam-idamkan.

Usaha ini juga sebagai persiapan saya menerima limpahan anugerah-Nya. Keyakinan saya bahwa turunnya anugerah sebagaimana kesiapan diri memacu ikhtiar persiapan itu terus saya coba. Ya walaupun gagal mulu. Tapi saya menyikapinya ini karena saya belum ada kesiapan diri.

Kesiapan yang saya maksud adalah kesiapan batin, dan kesiapan kesadaran diri. Munculnya orang-orang kaget setelah mendapatkan limpahan anugerah entah itu jabatan, kekayaan, yang nampak ada sikap diri seperti sombong, ujub dsb, saya rasa karena tidak ada kesiapan diri.

Saya ingin melanjutkan sekolah doktoral maka saya harus menyiapkan mental, pengetahuan, ketahanan belajar, dan yg utama biaya pendidikan sampai selesai study. Di awal saya harus menyediakan biaya pendaftaran satu juta rupiah, proposal disertasi, hasil tkda, hasil toefl yang keduanya berskor min 550. Jika lolos maka saya harus siap membayar spp martikulasi sebesar enam juta rupiah. Di semester awal sampai selesai sekitar semester 6-7 spp sebesar dua belas juta. Di tambah biaya penunjang riset. Sangat mahal dan menantang. 

Untuk studi tersebut saya tidak mengambil jalur beasiswa. Saya merasa yakin dengan kemampuan menulis/berkarya saya bisa membiayai itu semua. Rencana studi itu gagal tercapai hampir masuk di tahun kedua. Penyebabnya satu, saya tidak mempersiapkan diri. Maka, mumpung awal pendaftaran masih jauh, saya bisa menyicil persiapan. Bulan ini saya menyicil ketahanan belajar dan keterampilan menulis. Saya mau mencoba mengirimkan artikel-artikel ke media-media. Untuk menguji kemampuan menulis, maka jalannya mengirimkan artikel. Satu artikel diberikan honor minimal dua ratus ribu. Sehari satu artikel dan tayang di media, selama sebulan alhamdulillah tertransfer enam juta rupiah. Ya setidaknya hitungan untuk biaya studi dapat di atas. Saya mau suatu ketika membagikan pengalaman sekolah doktoral dengan biaya hasil dari menulis/berkarya. Jadi mencari beasiswa bukan satu jalan lancar studi lanjutan.



Menulis, berfikir dan berkarya adalah tiga hal yang sedang saya tingkatkan kualitasnya. Agar lancar menulis saya menjadika tiga buku utama sebagai media latihan menulis. Buku catatan calon penulis, buku creative writing, dan buku menulis dengan cinta. Saya selesaikan satu buku, saya nilai perkembangan menulis saya, kalau semuanya oke saya lanjut ke buku yang kedua. Setidaknya dalam sebulan lompatan menulis saya jauh dan tinggi. 

Berfikir adalah bagian utama seorang penulis atau apa pun profesinya. Berfikir yg dinamis perlu dilatih dengan banyak membaca lintas genre. Saya pernah senang membaca filsafat. Sekali baca tidak paham. Diulangi sampai paham dan begitu terus. Daya berfikir orang tergantung kesanggupan mengolah nalar/rasionya. Nalar mudah berkembang dengan membaca dan berdiskusi. Saya ditahapan ini juga sudah merinci buku-buku apa saja yang siap dibaca. Pembuktian daya berfikir saya meningkat kelihatan dari kemampuan saya menulis ulang apa yang saya serap dan saya kritisi terapan keilmuan yg di maksud.

Setelah kedua itu selesai dan jamak tercapai maka berkarya adalah pembuktian besar. Di awal tahun ini saya pernah menulis target terbit buku-buku saya di penerbit mayor. Sudah di bulan ketiga, satu buku pun belum juga saya tulis. Judul dan kerangkanya sudah ada. Semogalah di bulan ini satu bab terwujud.

Menulis pun persis dengan berolah raga, pemanasan melenturkan otot-otot sebelum melakukan gerakan serius. Setelah tulisan ini saya akhiri, jaringan di otak saya bekerja, asosiasi kata, logika bercerita terbentuk dan saya siap menggulirkan cerita pertama di hari pertama saya bangkit dari kelalaian target harian.

Babelan, 19 Maret 2022. 10.24 WIB


Kamis, 26 Agustus 2021

Jalan Lain Bekerja

 Jalan Lain Bekerja

Bagus Styoko Purwo

Obrolan malam Jum'at, 19 Agustus 2021 mengangkat tema Kerja dan Religiositas. Apa saja yang dibicarakan, mungkin di lain tulisan akan saya bahas. Ini tulisan pertama hasil obrolan itu. Setiap peserta di minta menulis tema di atas dengan jumlah kata sekuat-kuatnya. Pointnya tulisan selesai dan di kirim sebelum hari kamis di obrolan ke depan. 

Saya belum terbiasa menulis lepas dalam arti lancar dan tidak terbebani. Ini tahapan yg harus saya maksimalkan, maka saya selesaikan ini selama dua kali pindah tempat: di sekolah  dan selesai di rumah.

Bumi dan seisinya disediakan khusus untuk umat manusia. Di langit tertinggi bantahan malaikat atas penciptaan manusia pertama Tuhan buktikan dengan kesanggupan dia menyebutkan nama-nama ciptaanNya. Maha suci sang pencipta yang selalu menciprati hikmah di balik kemahaannya.

Sejarah kehidupan manusia pada periode kemunculannya adalah menyuburkan keturunan, membuat garis-garis tangan sesuai apa yang saat itu dapat diperbuat. Catatan sejarah menjelaskan nomaden adalah jalan hidup mereka. Kalau kita sempat membaca kitab suci, bapak Adam dan Ibu Hawa adalah perantara berkembangnya populasi manusia untuk tujuh keturunan. Garis keturunan mulai terlihat dari situ. 

Lalu pengisahan para nabi dan rasul memperjelas zaman berlangsungnya kehidupan. Misi utama umat manusia sampai dengan sekarang adalah memperindah dunia. Secara makna boleh diartikan mengada-adakan yang sebelumnya tidak ada, membagus-baguskan yang sebelumnya tidak arstistik atau yang sejenis dari itu - asal sesuai dengan hajat besar manusia: laba.

Membahas laba membahas juga alat pengaitnya. Laba adalah kepuasan kuantitatif atas pencapaian selama satu putaran waktu. Apa pun yang telah berlangsung atau akan berlangsung, diam-diam ada laba di dalamnya. Di belakang setiap keputusan ekonomi juga labalah pemicunya. Perdebatan sengit dipelopori oleh laba, maka laba adalah sentral dari bahasan utama kehidupan kita.

Orang-orang bekerja motivasinya perolehan laba. Sebut gaji, upah, honorarium atau yang semakna menggiurkan dari itu.  Profesionalitas memperkuat daya kinerjanya untuk menggaet laba. Bekerja secara profesional begitu linear dengan laba yang menggoda. Kalau bekerja sedari awal tidak berangkat dari ketulusan, dinamika batin dan kesadaran si pekerja berputar sampai menemukan cahaya terang bahwa bekerja yang sejati itu bla..bla..bla.. Bahwa ada loh yang esensial ketimbang profesionalisme. Ada yang ingin menambahkan lagi....

Diam sejenak di kisah yang terbilang unik dan saya tidak yakin apakah itu pernah ada atau hikmah isapan dari penulisnya: seorang penjual cendol umumnya senang jualannya cepat habis. Bersyukur sekali bisa pulang sebelum asar habis. Setidaknya ia bergembira sesaat menerima pesanan melimpah dari pembeli yang mendadak menyetop gerobak cendolnya. "Kalau cendol ini bapak beli semua, bagaimana dengan pembeli lain ingin juga membeli." Laba maksimal tidak menjadi orientasi dagangnya. "Kan dagangan abang saya borong semua. Enak, jadi bisa pulang agak siang," tanggap pembeli seolah menyadarkan peran sebagai pedagang keliling. 

Pemahaman yang tidak biasa menjadi keyakinan kokoh dalam diri abang cendol. Saya merasa ia tidak sedang bertransaksi secara wajar. Ia seperti mendapat penjagaan dari matrealisme. Keumuman pulang membawa laba tidak lebih agung daripada menjaga kententraman batin. Batin yang tenang rupanya dengan membatasi hasrat diri terhadap kalkulasi rupiah ke rupiah. Membagikan kebahagiaan dengan menyediakan cendol segar kepada para pembeli lainnya. Abang cendol dalam kisah pendek itu mampu menembus kesadaran bapak pembeli yang sesampainya di rumah menyesali adanya seselip serakah di hatinya. Bagi Anda yang pernah mendapati kisah ini anggaplah sebagai penguat ingatan diri tentang bekerja versi takaran cendol.

Sampai sedewasa ini saya masih sering kebablasan memaknai bekerja sebagai profesi. Ketika mendapati penugasan terbayang jumlah yang masuk ke rekening di awal bulan. Selesai pekerjaan otomatis terbersit lagi tawaran pekerjaan yang menyebabkan tambahan ke rekening. Keuntungan menjadi pertimbangan dasar sebuah pekerjaan dilaksanakan. Lumrah. Sebab keahlian bukan sesuatu yang murah, remeh, apalagi ditukar dengan ungkapan terima kasih. Tapi pada medan kejadian tertentu, keuntungan berbentuk pengakuan, testimoni atau portofolio kiprah justru dicari-cari. 

Kepenatan karena bekerja, kejenuhan karena rutinitas pekerjaan, atau disorientasi pekerja - pemicu yang menghubungkan semua itu tidak adanya spirit bekerja. Saya boleh artikan itu sebagai cahaya yang menerangi ruang pekerjaan. Kondisi temaram tidak jelas apa-apa yang ada di sekitar. Kondisi gelap malah menghentikan langkah pencarian apa-apa yang bisa terjamah. Sedapat mungkin cahaya memberikan rasa yakin terhadap apa-apa yang akan dikerjakan.

Bekerja, pekerjaan, selanjutnya dengan model pemaknaan apa yang tepat guna sesuai dengan kondisi zaman. Saya tawarkan pendekatan modern dan pendekatan risalah agama. 

Pendekatan modern sejalan dengan temuan-temuan empiris tentang pengaturan kinerja manusia. Manusia yang produktif mengacu pada indikator: 1. Usia, 2. Keterampilan diri, 3. Lingkungan kerja. Usia muda sarat dengan progresivitas. Idealisme mencolok dan sebagai seragam usia muda. Keterampilan terbentuk melalui training, workshop dan jam terbang di bidang yang sama. Lingkungan kerja merupakan praktik organisasi antar sesama yang menghubungkan bagian dengan bagian. Lingkungan kerja yang sehat tidak memelihara persaingan sengit dengan motif menjatuhkan bagian lain. Pendekatan modern selalu mengacu saling menguntungkan. Pemberi kerja mendapatkan sumber daya manusia, pekerja mendapatkan kompensasi finasial. Sekilas sama rata. 

Pendekatan risalah agama menyadarkan peran manusia diciptakan untuk beribadah semata. Beribadah yang dipahami kemudian tidak melulu ritual vertikal. Segala tindakan yang difokuskan kepada sang Pencipta, itulah bentuk ibadah. 

Bekerja sebagai ibadah belum begitu populer dijadikan pedoman. Apa untungnya menganggap bekerja sebagai ibadah? Yang diperlukan di dunia adalah uang, bukan balasan pahala. Memang hidup manusia terbatas, karena itu kumpulkan uang sebanyak-banyaknya, bekerja sekeras-kerasnya agar jalannya nikmat dunia tidak dilalui oleh mereka yang giat siang malam. 

Pekerja yang menjadikan pekerjaan sebagai jalan ibadah, mereka memperoleh dua tujuan sekaligus. Kalau pun mereka kaya, maka kekayaannya itu karena keberkahan ibadah dalam bekerja. Dan seandainya mereka mati ketika merampungkan pekerjaan, maka kematian mereka begitu mulia karena tetap menjalankan misi utama sebagai ciptaanNya.

Jalan lain bekerja agar kita tidak merasa sumpek karena keterbatasan dari banyak sisi. Gaji tidak seberapa, tapi enak di jalani. Karir biasa saja, tapi target-target duniawi terpenuhi, tidak merasa payah mengejar materi namun berkah turun tak henti-henti.

Kalau saya memaknai bekerja sebagai panggilan dalam diri untuk menjalani misi ciptaan, menyakinkan itu sebagai prinsip bekerja maka saya wajib menguatkan terus. Dan jalan lain bekerja untuk para pekerja, kembali pada jatah masing-masing.

Bagus Styoko Purwo, penikmat bacaan dan jamaah obrolan malam Jum'at 


Pekerjaan - Refleksi 15 Tahun Berkiprah

 Pekerjaan

Refleksi 15 Tahun Berkiprah

Oleh Bagus Styoko Purwo


Artikel ini saya buat untuk mengikuti pelatihan menulis yang diampu oleh maestero esais Kabut Bandung Mawardi.

Persyaratan yang mesti dipenuhi sertakan tulisan sepanjang 500 kata dengan tema pekerjaan. Saya ingin sekali belajar langsung dengan beliau. Sehari sebelum tenggat waktu, naskah ini saya kirim. Hari senin siang saya dapati email dari mas Bandung. Nama saya masuk dalam 10 peserta pelatihan menulis itu. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali. Minggu pertama obrolan bersama mas Kabut dan sepuluh teman baru bertemakan yang bekerja yang bereligiuisitas.

Blog ini akan saya jadikan media dokumentasi pelatihan menulis itu.



Masa depan di mulai sejak kita memilih menempuh sebuah jalan. Langkah berikutnya sering kali dipengaruhi oleh pengalaman orang lain atau membayangkan sesuatu yang kita rasa itu nikmat dijalani. Saya mengalami itu saat setelah lulus sekolah tingkat menengah kejuruan, saya ingin langsung bekerja namun orang tua menilai terlalu muda untuk memulai itu. Pilihan orang tua pada akhirnya adalah yang terbaik bagi saya saat ini dan semoga ini jalan lapang di kehidupan saya.

Pekerjaan bagi umumnya orang-orang adalah cara untuk bertahan hidup, untuk memenuhi capai-capai gengsi - di kalangan urban. Itu wajar sebab setelah selesai masa sekolah yang dituju adalah lapangan pekerjaan. Kebutuhan tenaga kerja tidak lagi ditentukan berdasarkan keahlian tunggal. Asal mengerti petunjuk penggunaan dan mampu mengimplementasikan arahan kerja, pembiasaanlah yang membentuk profesionalismenya.

Di tahun 2005 saya tidak terlalu berhasrat masuk perguruan tinggi. Saya ingin segera bekerja. Saya juga tidak tahu di bidang apa. Intinya bekerja dan berpenghasilan. Saat itu juga pekerjaan terlintas begitu mengesankan benak saya. Mungkin saya cocok bekerja di kantoran. Kan saya lulusan jurusan akuntansi.

Akhirnya saya tidak digariskan bekerja. Terdaftar sebagai mahasiswa jurusan akuntansi. Sehari-hari berangkat ke kampus sebagai mahasiswa reguler. Menempuh studi selama delapan semester. Masuk semester tiga hasrat saya untuk bekerja tidak terhalang lagi. Lamaran pekerjaan saya tujukan menjadi tenaga pengajar di sekolah menengah kejuruan. Belum terlalu yakin saya bisa menjalaninya, satu semester mengajar di sana saya mulai mengerti inti dari suatu profesi.

Guru muda yang menyimpan bara-bara pembaharuan. Hasil memungut dari sekam-sekam pendidikan tinggi dan sajian-sajian literasi lintas bidang. Apa yang saya berikan di kelas-kelas sesuai keyakinan yang saya peram saat itu. Saya seperti merdeka menentukan sikap dan cara, namun jurang risiko begitu dekat dengan saya. Jangan terlalu memberikan kebebasan kepada seorang pemula yang ia pun masih mungkin tersesat dalam kebanggaan-kebanggaan kecilnya - begitu menurut saya saat ini. 

Pergantian tahun ajaran dan selesainya studi saya, pembaharuan cara-cara kerja saya serap dari berbagai sumber. Saya ternyata dilompatkan ke lembaga pendidikan yang menekankan pencapaian-pencapaian ideal sebagai tenaga pengajar. Nilai-nilai edukasi diikat dengan jalinan karakter yang kuat. Bahwa seorang pengajar tidak berhenti di akhir bel jam sekolah usai. Seorang guru baiknya melanjutkan pencarian-pencarian baru untuk mengokohkan pola kepengajarannya. Saya dapati itu tanpa bersusah payah. Lembaga tempat saya mengajar concern dengan pengembangan integritas diri dan profesionalisme bekerja. Guru-guru yang hebat sangat mudah mencetak para lulusan yang hebat.

Pekerjaan yang melahirkan kepuasaan diri bagi saya adalah indikator kuat bahwa saya menyatu dalam setiap aktivitas yang berjalan dinamis. Sergapan kebosanan mudah saya singkirkan, karena saya menghayati peran sebagai pengajar. Masuk lima belas tahun mengajar bukan waktu yang pendek dan bukan juga jalan karir yang membanggakan. Tidak banyak yang saya bisa saya simpulkan selama itu. 

Tentang pekerjaan yang merupakan pilihan profesi bagi siapa saja, saya memperluas makna pekerjaan sampai batas apa saja yang ditekuni kemudian menghasilkan nilai-nilai berarti untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan puncak peradaban bangsa, semua itu adalah bukti suatu pekerjaan pantas untuk banggakan. Saya bahagia memeluk pekerjaan yang begitu memuliakan dunia kemanusiaan. Lelah dan penat seperti tidak terjamah.

Biodata:

Bagus Styoko Purwo, tinggal di Kab Bekasi. Aktivitas sehari-hari mengajar di SMK Ananda, Bekasi. Senang membaca. Bergabung di #kampusfiksi non fiksi, Yogyakarta.

.



Senin, 29 Maret 2021

Praktek #1 Bagian ke-1

 Oleh Bagus Styoko Purwo



Sesungguhnya tidak ada penulis hebat. Yang ada hanyalah penulis yang terlatih dan penulis yang beruntung. Yang pertama bisa kita usahakan. Yang kedua, bukan hanya tidak bisa kita usahakan, tapi juga tidak perlu kita pikirkan (Puthut Ea: 2019)



Untuk meningkatkan keterampilan menulis, saya menjadikan buku yang berjudul Buku Catatan Untuk Calon Penulis, karangan Puthut Ea sebagai pedoman memulai menulis. Materi-materi menulis yang tersedia tepat untuk dijadikan sumber gagasan. Dalam setiap bagian terdiri dari dua uraian pendek, hanya satu paragraph. Sekitar dua sampai tiga kalimat. Pendek sih, tapi sampai masuk akhir Maret 2021 belum juga saya tamatkan dalam praktek menulis di blog ini. Saya buka kembali halaman yang berisi #1. Saya ketik di halaman ini. Apa yang nanti saya tuliskan semoga hasilnya lancar dan menginspirasi. Niat saya menjalani latihan ini adalah memperluas jangkauan ibadah yang tidak sebatas ritual vertikal, tapi ibadah horizontal. Bismillah.

Pengantar ke Filsafat

 Oleh Bagus Styoko Purwo



Untuk keperluan studi saya rasa membaca tidaklah cukup. Bahan bacaan filsafat sarat dengan pemahaman terbilang unik. Kenapa unik? Yang dipahami pembaca satu dengan lainnya tidaklah sama persis. Pemahaman berikutnya tergantung kecakapan nalar dan muatan referensi si pembaca. Untuk pengayaan filsafat, mahasiswa pasca sarjana 

Jumat, 01 Januari 2021

Usaha Mewujudkan Target-Target 2021

 Oleh Bagus Styoko Purwo

Tulisan pendek ini mengawali niatan saya mewujudkan sejumlah kebutuhan yang bagi kami (saya dan istri) mau tidak mau, dengan jalan yang entah seperti apa dapat terwujud di sepanjang tahun 2021.

Mewujudkan sesuatu perlu ekstra usaha. Perlu perencanaan bagaimana mewujudkan sesuatu itu. Maka saya begitu yakin bahwa di ruang kerja kreatif ini adalah jalan ijabahNya atas pengharapan kami.

Persis di hari ini, tanggal 31 Desember 2020, setelah saya menuntaskan empat tulisan pendek Puthut Ea yang tersaji di bukunya yang berjudul Bola Liar, saya mendapatkan semangat untuk memulai proses kreatif. Keyakinan saya dengan kebiasaan menulis beragam tema, khususnya tulisan non fiksi, harus saya rapihkan. Sudah sering saya membuat jadwal menulis ke berbagia media. Sudah banyak link-link lomba menulis yang saya tulis di notes, di buku atau di ketik di hp, juga saya buat mode pengingat. Sayangnya, yang saya buat itu tidak sepenuhnya terlaksana. Saya rasa karena tekad kurang kuat.

Sekarang saya memulai pembiasaan pertama: menulis bebas. Saya coba menuangkan apa-apa yang terlintas di kepala saat dua ibu jari ini menekan-nekan tombol gawai. Saya coba juga melatih diri menulis di gawai. Menyelesaikan sebuah tulisan atau gagasan tidak wajib di hadapan sebuah pc. Nanti setelah pembiasaan menulis di gawai masuk empat puluh satu hari, saya latih juga pembiasaan menulis di media kertas. Intinya saya bisa menulis secara mudah. Tidak di repoti keharusan ini itu yang sifatnya teknis belaka.



Mengawali pembiasaan ini terasa agak kaku. Saya mengakui itu. Kok saya pernah menulis satu buku non fiksi, menulis puisi, terasa seperti baru belajar menulis. Mungkin kalau saya selalu menulis setiap hari tidak akan kesulitan mengembangkan kalimat. Tulisan lekas jadi. Dan saya bisa lanjut ke tema apa lagi.

Baik lah, saya menulis ini sampai merasa sudah tidak ada lagi yang perlu disampaikan, dengan batasan-batasan: buku-buku penunjang melatih menulis, daya tahan menulis dan motif dibalik menulis. Saya juga coba menyelesaikan tulisan ini di sekali duduk.

Orang-orang yang gemar menulis selalu hobi membaca. Saya pun sama. Saya pernah satu masa hampir kecanduan membeli buku. Saat masuk ke toko buku hasrat membeli buku adalah perang dalam diri saya. Antara kehendak membeli dan tidak membeli. Menimbang benar apakah saya sungguh-sungguh memerlukan buku bacaan itu atau hanya sifat konsumerisme semata. Lalu biasanya saya mengelilingi rak-rak buku sampai hasrat membeli itu tidak mendominasi hati saya. Itu cara ampuh saya membatasi jumlah belanja. Soalnya waktu itu ketersediaan uang bagi saya tidak sampai ke skala prioritas untuk kebutuhan hidup.

Lain dulu dengan sekarang. Saat-saat ini saya membeli buku dengan pembatasan yang sengaja dibuat ketat dan sengaja saya hadirkan pertanyaan dalam diri. Membeli buku yang sesuai dengan bidang pekerjaan saya tidak mungkin tidak saya beli. Ini lah prioritas saya. Atau buku yang sedang sesuai dengan penguasaan bakat saya. Maka pastilah masuk dalam keranjang belanja.

Enak benar belanja di zaman yang serba digital. Kita tidak perlu ke toko. Cukup dari rumah. Harga-harga yang ditawarkan saling bersaing. Kebiasaan saya membeli buku sudah masuk ke tahap senang belanja secara online. Saya memilih buku dengan dasar pertimbangan harga murah, dan gratis ongkir. Buku-buku yang sering saya beli berasal dari Jogja. Ternyata populasi penjual buku itu lebih banyaknya di Jogja ketimbang di Jakarta. Nyatanya banyak buku-buku saya yang hanya ada di penjual buku Jogja.

Saya memilih buku untuk penunjang hobi. Saya tidak yakin bahwa menulis adalah hobi. Saya tidak menulis setiap hari. Kalau itu sebagai hobi maka bisa terlihat dari rutinnya saya menulis. Saya bisa menulis. Saya senang membaca. Jadi saya anggap saya hobi menulis.Tapi saya ingin menulis sebagai hobi yang menyenangkan dalam artian bisa menghasilkan pendapatan tambahan dan penunjang karir saya sebagai pengajar.

Buku-buku yang saya anggap ampuh meningkatkan kualitas dan kecepatan menulis adalah buku yang berjudul Menjadi Penulis dan buku yang berjudul Buku Catatan untuk Calon Penulis. Kedua buku itu ditulis oleh Puthut Ea. Saya merasa nyaman dan menikmati gaya kepenulisannya. Saya yakin bisa meniru yang ia tulis. Ia memberikan tips agar mudah menulis dengan cara meniru penulis yang saya gandrungi. Pas sekali, saya menggandrungi cara ia bercerita. Lancar. Santai. Dan seperti tidak ada kendala.

Buku-buku penunjang latihan.
Saya merekomendasikan buku Menjadi Penulis sebagai buku petunjuk mengenali cara kerja seorang penulis. Dalam buku itu si penulislah bercerita pengalaman selama menggeluti dunia kepenulisan. Ternyata menulis itu bisa dijadikan profesi sebagaimana para pekerja bekerja di bidang-bidang tertentu dan mendapatkan penghasilan utama dari menulis. Proses kreatif itu didapatkan dari hasil membaca, bergaul dan melatih berfikir kritis. Saya belum sepenuhnya membuat point-point utama dari setiap topik yang ia sampaikan. Saya akan buat nanti, agar proses latihan berfikir kreatif yang akan saya alih wujudkan ke tulisan semakin mudah. Keterampilan itu juga perlu dibuatkan perencanaan bagaimana menghadirkannya.

Singkatnya, dalam buku itu penulis membeberkan cara berkaryanya selama ini. Peluang-peluang yang bisa diambil dalam dunia menulis. Saya ingin membuat ulasan per tema nanti.

Buku Catatan untuk Calon Penulis. Ini adalah kumpulan ide pokok untuk mengembangkan menjadi satu tulisan utuh. Tersedia lembaran kosong yang cukup untuk ditulis tangan. Menulis berangkat dari ide pokok dimaksudkan untuk menghindari kebuntuan proses menulis. Terdapat dua puluh ide pokok. Bila saya selesaikan satu ide pokok untuk satu hari, dalam rentang dua puluh hari saya berupaya membebaskan kecanggungan menulis bebas. Menulis jadi lancar. Kendala menulis lebih sering karena mampet mau menulis apa lagi.

Melatih daya tahan menulis.
Puthut Ea di masanya melatih kemampuan menulis, ia terapkan latihan menulis apa saja setiap hari. Satu hari terlewat, ia menghukumi dirinya untuk menuntaskan tulisan yang terlewat itu di hari berikutnya. Begitu ia langgengkan selama enam bulan. Saya jadi mengerti durasi melatih menulis, perlu setidaknya enam bulan. Itu versi Puthut Ea.

Saya coba biasakan di awal 2021 ini menulis minimal sekali dalam sehari. Mencoba menuntaskan apa-apa yang disampaikan di buku Catatan untuk Calon Penulis. Kalau dalam tiga hari saya sanggup menulis, berarti stamina menulis saya ada. Tinggal saya melatih meningkatkan stamina menulis dan tahan jenuh.

Setiap latihan yang diupayakan seseorang pasti ada motif dibaliknya. Waktu era sekolah saya bersemangat berlatih gitar. Saat itu menjadi gitaris sedang hits. Saya berlatih melody, speed dan teknik-teknik seorang gitaris melody. Kesenangan saya berbuah hasil. Saya bisa membuat lick, membuat lagu dan mengulik lagu-lagu tertentu.

Saya menulis atau meningkatkan kualitas berkarya untuk menunjang karir saya di dunia pendidikan. Target sepuluh tahun mendatang, saya menjadi Profesor di bidang akuntansi/manajemen. Selain itu saya harus produktif menulis sebagai bagian dari tri dharma perguruan tinggi. Semua itu harus saya cicil dalam tahun ini. Tidak bisa tidak.

Saya juga punya empat target besar sepanjang 2021. Dan saya kok merasa yakin wasilah atau jalan penyambung terwujudnya empat target besar itu dari kegiatan saya menulis, dari keseriusan saya berkarya. Target besar kami itu secara kalkulasi cukup mencengangkan. Pada akhirnya saya memulai ini dengan keseriusan tinggi, pemikiran yang dinamis dan dalam rentang 12 bulan ke depan.

Niat saya menyelesaikan tulisan ini hanya sekali duduk gagal. Tepat di pukul 11.27, tanggal 1 Januari 2021, tulisan ini saya anggap selesai.

Desa Babelab Kota, 31 Des 2020- 1 Jan 2021

Kamis, 25 Juni 2020

Persiapan Khusus Menjadi Penulis Produktif

 
Oleh Bagus Styoko Purwo

Saya meniatkan ikhtiar ini sebagai jalan menuju manusia beradab yang bermanfaat. Modal saya tidak banyak. Sebuah tab untuk mengetik, dua buah rak buku yang masing-masing terdapat beragam tema, dan sejumlah rencana sampai dengan akhir tahun 2020. Masuk awal 2021 target saya menjadi penulis produktif tercapai. 

Keinginan saya untuk menulis lancar tidak bisa ditunda lagi. Saya harus melatih diri. Memaksa diri membaca sekian lembar dari sekian buku per hari dan per minggu menyelesaikan sekian buku hingga per bulan semua buku yang saya pisahkan sebagai bahan-bahan membaca tuntas dibaca semua. Saya mengikuti saran agar dapat menulis lancar dan baik.



Lancar atau tidaknya menulis juga tergantung pembiasaan diri. Adakalanya saya merasa lancar menyelesaikan satu tema tertentu. Tapi sering juga saya merasa sulit mengembangkan paragraph. Dan akhirnya tulisan tidak selesai. Sangat tidak mudah agar terbiasa menulis setiap hari. Dan bahkan sangat sulit menjaga kestabilan kosentrasi ketika menyelesaikan tulisan.

Dalam usaha ini, setidaknya saya telah menyediakan sekitar lima belas bahan bacaan dari berbagai tema. Karya-karya para penulis besar ada di dalamnya. Saya sedang mengikuti pemikiran Mbah Nun dan bagaimana beliau menorehkan gagasan-gagasan seputar demokrasi. Saya membaca pemikiran Prof Komaruddin Hidayat seputar psikologi kematian. Saya selingi dengan membaca sedikitnya dua sub tema Majalah Cahaya Sufi dan puisi-puisi dalam Majalah Sastra Horison. Masih banyak lagi yang belum saya baca barang sepuluh hingga dua puluh lembar. 

Saya akan coba teguh menjalankan rutinitas membaca harian sebagai bagian mencicil bahan-bahan bacaan bulanan karena selama ini masih sangat jarang satu atau dua buku yang berhasil saya tamatkan. Sebabnya satu, saya mudah berpaling ke bahan bacaan yang lain.
Setiap hasil latihan yang telah saya lalui semoga dapat terus saya posting ke blog pribadi.

 Dalam proses yang sedang berjalan ini sebisa mungkin saya tidak mempublish hasil tulisan atau bentuk apa lah yang merupakan satu kesatuan dari usaha saya ini.

Saya perlu menuliskan lagi target pertama di bulan Juni 2020.

Pertama, menyelesaikan bahan-bahan bacaan dengan cara menyicil membaca setiap harinya minimal dua buku dan memberi tanda di halaman terakhir membaca.

Kedua, menulis minimal 250 kata berdasarkan tema yang termuat di Buku Catatan untuk Calon Penulis. Terdapat dua puluh tema. Kalau sehari minimal dua tema, maka selama sepuluh hari bukan lagi alasan untuk menunda menyelesaikan latihan itu.

Ketiga, membuat ulasan untuk bahan-bahan bacaan saya per harinya. Sehari saya minimal membaca dua buah buku, setelahnya ulasan saya ketik sebanyak itu.

Keempat, setiap hari minimal dua kali postingan di blog pribadi saya. Jika sehari terlewatkan maka dihari berikutnya kewajiban dikalikan dua menjadi empat postingan.

Kelima, saya harus selalu menjaga niat agar latihan ini tidak diorientasikan untuk memperoleh uang, materi atau apa pun yang skalanya duniawi. Saya harus ikhlas sebagaimana nasehat Mbah Hasyim Asy'ari.

Keenam, waktu menulis diusahakan efektif dan efisien. Efektif berupa tulisan yang saya hasilkan sesuai dengan tema harian, bersumber dari bahan-bahan membaca dan semakin bagus narasinya. Efisien berupa waktu penyelesaian yang tidak berkepanjangan, menyelesaikan tulisan, lalu mengedit sebelum di posting ke blog.

Saya cukupkan dulu. Dan semoga yang saya tuliskan ini terlaksana dengan optimal. 
Babelan, 25 Juni 2020. Pukul 00.35 WIB

Kamis, 27 Februari 2020

Mata Kuliah Akuntansi Manajemen

Silakan download RPS dan bahan-bahan perkuliahan di bawah ini.
RPS : RPS Akuntansi Manajemen
Bahan-bahan literatur :Literatur Akuntansi Manajemen
2.Bahan literatur

Bahan ajar tatap muka wajib di print ya
Pertemuan 1:TTM 1
Tugas 1 : Tugas 1-1 & Tugas 1-2

Pertemuan 2 :TTM 2
Tugas 2 : Tugas 2-7 & 2-8
Pertemuan 3 : Materi BEP
Pertemuan 5 :Variabel & absoprsi
Pertemuan 6: Mareri ABC
Pertemuan 8 :Keputusan khusus
Pertemuan : Keputusan Investasi
Materi tambahan keputusan investasi:Keputusan investasi terbaru
Pertemuan 14 : Biaya kualitas
Pertemuan 15: Balance score card

Jumat, 10 Januari 2020

Biarkan Alamiah yang Bekerja, Nyatanya Cukup Melelahkan

Biarkan Alamiah yang Bekerja, Nyatanya Cukup Melelahkan

Oleh Bagus Styoko Purwo

Tulisan ini mengambil gagasan dari percikan #2 buku yang berjudul Buku Catatan Untuk Calon Penulis


#2. Bagian ke-1: jangan pernah membiasakan meninggalkan tulisan yang belum jadi hanya karena kehabisan ide. Setiap kali muncul masalah seperti itu hadapilah. Tanamkan dipikiran Anda, kalau kamu terbiasa membuat tulisan terbengkalai tidak selesai, maka Anda akan punya kebiasaan lari dari tanggung jawab di kehidupan sehari-hari.

Bagian ke-2: menjadi penulis adalah membiarkan sebagian dari diri Anda menjadi seorang seniman. Seorang seniman yang baik tahu akan hal ini : membiarkan spontanitas bekerja dan memelihara rasa kanak-kanak untuk terus ada. Bermainlah. Bermian dengan kata-kata. Bermain dengan gambar. Bermain dengan coretan dan goresan. Lakukan dengan spontanitas dan rasa kanak-kanak yang indah itu...

Melakukan suatu hal tanpa terencana atau merencanakan suatu hal. Yang pertama, tanpa terencana tidak menimbulkan masalah susulan bila itu suatu hal yang biasa terjadi. Misalkan maka siang dalam suatu perjalanan boleh di mana saja. Sedapatnya warung nasi atau rumah makan pinggir jalan. Tidak masalah makan di rumah makan yang bukan langganan. Sebabnya jelas, sedang dalam perjalanan. Kalau pun rasanya tidak berkenan, ya ditinggalkan saja sajiannya dan meloncat ke rumah makan yang lain. Memang rugi, tapi dapat dimaklumi. Yang kedua, perlu perencanaan. Lain contoh, melakukan traveling ke sejumlah destinasi. Di buat serinci mungkin agenda selama traveling agar tidak menimbulkan masalah. Traveling tanpa agenda atau ketepatan dari agenda yang ada sama juga dengan menunda rasa bahagia selama traveling.

Dalam berkarya, seorang seniman, entah dia musisi, penulis atau pelukis, ada saja di waktu tertentu seperti tidak bisa menahan kejolak berkarya. Saat itu juga tidak lagi memandang ruang dan waktu. Ia perlu mengeluarkan gelora gagasan yang datang seperti tamu tidak di undang. Mengejutkan. Ia paham bagaimana menyikapi keterdesakan untuk menumpahkan ide berkarya. Maka ia yang berstatus penulis mencurahkan idenya di note gawai, di sebuah buku atau di hadapan laptop. Kalau itu yang saya alami, saya catat dalam notes. Namun bagi ia pekerja seni yang memerlukan media penumpahan ide, ia harus cepat sampai di studionya, lalu menyelesaikan sampai tidak tersisa gelora berkarya di dada, di kepalanya.

Biarkan alamiah yang bekerja, tepatnya untuk apa pun itu yang tanpa perlu persiapan khusus, tanpa fasilitas penunjang tertentu, mekanisme suatu hal dapat bekerja tanpa kendala. Saya sedang melatih diri menulis tanpa persiapan. Bahkan menulis tanpa ide sebelumnya. Saya biarkan apa yang hendak otak saya besitkan. Giliran saya yang mengatur bagaimana agar menjadi tulisan yang nyaman dibaca. Dengan cara itu saya bisa meninjau keberlangsungan alamiah yang seperti apa yang sesuai dengan saya.

Namun faktanya saya masih sering kesulitan merangkai kata. Masih sering menghapus dan mengedit kalimat yang sudah ada. Barangkali hambatan turunnya kata-kata dari dalam benak disebabkan belum mahirnya saya mengoperasikan sistem berkarya.

Teori dari penulis buku ini adalah menulislah selama dua bulan. Jangan tidak menulis walau sehari saja dalam dua bulan itu. Bahkan ia menulis serius selama enam bulan bila terlewat tidak menulis di salah satu hari. Teori itu saya dapatkan di sebuah situs yang mengutip wawancara dengannya. Saya coba perluas teori dia itu. Saya menulis dalam satu halaman, minimal. Ternyata saya sanggup. Saya tingkatkan menjadi empat halaman. Kemarin saya sanggup menulis sampai enam lembar. Semoga ini perkembang baik saya. Sampai di mana saya kuat berproses.

Di awal tahun 2020 saya menargetkan akan menulis untuk banyak media. Saya buat di notes gawai ibunya anak-anak. Dalam sehari minimal saya menulis untuk satu media. Di minggu pertama sasaran saya adalah media daring. Penelusuran media yang saya maksud sampai ke style rata-rata penulis di sana. Saya pelajari isu-isu apa yang kebanyakan diangka sebagai tema. Alhasil saya semakin payah mengikuti gaya menulis ngpop ala mereka.

Kalau meniru bagaimana mereka mengulas dengan gaya yang sama, analogi yang kurang lebih sama, rasa-rasanya saya bisalah. Tapi saya ini kan sedang melatih keras daya kreatif. Kekuatan kreatif dalam diri.

Sudut pandang tulisan. Tulisan di tema yang sama dengan sudut pandang yang berbeda akan memperkaya informasi. Bukankah sebuah karangan dihadirkan sebagai sumber informasi. Selebihnya adalah kenikmatan saat membacanya.

Saya pernah membaca buku yang mengulas persiapan menulis tanpa ide. Si penulis buku itu juga tidak percaya dengan istilah writing block. Hambatan penulis hanya berlaku untuk mereka yang tidak memiliki keterampilan menulis. Kalau saya bilang, mereka kurang niat yang kuat.

Bekerja yang tidak meruntut detail dalam pelaksanaanya ada saja lubang-lubang kecil. Bisa disebut masalah. Masalah mencuat karena ada kesenjangan fakta dengan target. Jadi detail pekerjaan merupakan keniscayaan. Sedangkan menulis ditahapan profesional menyertakan detail saat penggarapannya.

Menulis tanpa outline dan yang berbekal outline, tergantung kebiasaan si penulis. Outline difungsikan sebagai pemberi arah, pemberi batas. Penulis terampil mengolah tulisan dengan panduan outline di otaknya. Penulis satu dengan lainnya tidak sama mendudukan outline dicara ia berkarya.

Di tulisan ini saya membebaskan diri dari outline. Maksudnya memfungsikan kealamiahan otak menghimpun kepingan inspirasi. Masuk paragraph dua saya mulai payah mau menyampaikan apa lagi. Tapi saya patuh pada nasehat #2 ini bahwa jangan meninggalkan tulisan yang tidak selesai. Bingung mau membahas apa, tapi alternatif menguraikan judul menjadi sub-sub pembahasan berikutnya mungkin saya pilih. Intinya saya harus mencapai empat halaman ini.

Melelahkan memang, usaha menyatukan kata ini dengan kata itu. Mengatur plot agar tercipta keterpaduan. Mengisi waktu lima belas menit bagi pembaca untuk menyelesaikan artikel yang sedang di lahapnya. Ini yang sedang saya alami. Saya harus tangguh melewati rasa lelah menuntaskan ini di dua tempat terpisah.

Di sekolah, saya mencicil lembaran pertama. Judul saya tulis di sekolah. Sambil menunggu peserta didik mengerjakan menceritakan alur penjualan berdasarkan teori yang telah disampaikan. Menulis tidak melulu di tempat sunyi. Itu yang saya rasakan. Saya juga tidak lagi sulit menyambi mengetik di tablet di sela-sela mengajar. Kemarin hal itu saya coba. Peserta didik menyelesaikan langkah setup data perusahaan dan lima transaksi. Selang waktu mereka selesai, dua jempol saya menekan papan tablet. Hasilnya lumayan. Saya membayangkan Mbah Nun menulis terjeda tamu-tamu yang seperti silih berganti konsultasi dengannya. Konsetransi beliau menunjukkan bakat dan khazanah pengetahuan mendukung dan sama-sama kuat.

Penulis dengan modal kuat berupa pengetahuan, selain cakap secara teknis, karya rata-rata yang ia selesaikan melintasi zaman. Saya menyakini itu Mbah Nun. Beliau menulis esai sebagai bagian shadaqoh di kehidupan ini. Saya belajar menulis cakap agar kelak menempati strata kehidupan yang tidak hanya bermanfaat, tapi juga kaya raya. Orang kalau kaya harta dan berhati dermawan, setiap hembusan napasnya adalah perubahan yang signifikan. Sejarah menceritakan shadaqohnya orang sugih mengalirkan keberkahan bagi lingkungannya.

Saya tidak tahu pasti apakah tulisan ini membahas sesuatu yang monoton. Yang saya bisa tuliskan ya seperti ini. Tumpahkan saja. Lagi pula memang ada hal baru yang belum di tulis? Di tema ini yang utama saya tuangkan isi kepala ke sini. Sebisa mungkin saya cocokan pembahasan ini ke bagian yang ini. Pembahasan itu sepertinya masih kurang. Beberapa kalimat perlu ditambahkan. Oh bagian ini kok tidak nyambung dengan bagian sebelumnya.

Pokoknya saya memancing ide apa saja. Melihat mobil, ide tentang mobil. Mendengar cerita ibunya anak-anak, ide tentang ibu rumah tangga. Tidak sulit menjaring ide. Andai saya mahir, ide-ide mudah saya alih wujudkan ke dalam tulisan-tulisan yang inspiratif.

Menulis itu terkesan kering jika bahan bacaan saya minim atau saya salah memilih buku bacaan. Salah membaca saja berpengaruh ke kualitas menulis. Orang-orang bisa sedemikian fanatik pada satu hal karena menyakini betul informasi yang mereka baca atau terima.

Latihan melancarkan menulis ini, bahan-bahan bacaan saya tertuju pada para penulis besar. Mereka itu sudah jaminan. Jam menulisnya sudah teruji jaman ke jaman. Seperti ketika saya membaca buku non fiksi Prof Sapardi Djoko Damono. Beliau menulis seperti sedang memberikan ceramah kuliah. Memang seperti itulah, menulis seperti sedang berbicara. Sehingga bahasa lisan dengan bahasa tulisan hanya berbeda ruang penyampaian. Bahasa lisan di sampaikan secara langsung dan berjarak dengan penuturnya. Adapun bahasa tulisan doi sampaikan di media kertas, blog atau sejenisnya dan berjarak dengan penulisnya.

Ide besar yang dituliskan secara tuntas, orisinalitas muatannya terjaga sepanjang jaman. Para pendiri bangsa ini menuliskan berjilid-jilid ide-ide besar. Mereka sampaikan di podium. Mereka bukukan. Curahan kehebatan pemikiran mereka terus tersambung di lain jaman. Ir. Sukarno menulis tema besar kebangsaan, tema agama, tema peran wanita dalam mengisi kemerdekaan. Tan Malaka dengan ide-ide besarnya mudah kita baca saat ini.

Saya juga tidak tahu pasti saat itu apakah Sukarno, Tan Malaka, Buya Hamka, menulis dengan pola spontan. Alamiah belaka atau mereka sediakan outline yang membekukan gagasan-gagasan besar itu agar tidak cair di saat suhu perjuangan memanas. Nyatanya mereka selesaikan itu. Melihat hasil pemikiran mereka di masa silam, kini saya sadar mereka tidak sepayah yang saya alami.
Bekasi Kota & Desa Babelan Kota, 10 Januari 2020
(Tulisan ini di selesaikan di SMK Ananda, Bekasi Timur dan di rumah, Desa Babelan Kota, Kab. Bekasi)

Kamis, 09 Januari 2020

Mau Seperti Apakah Saya Nanti, Penulis Terampil, Penulis Beruntung atau Pembaca Setia?

Oleh Bagus Styoko Purwo

Tulisan ini adalah percikan dari alenia pertama di bagian #1.


Halaman pertama. Sesungguhnya tidak ada penulis hebat. Yang ada hanyalah penulis yang terlatih dan penulis yang beruntung. Yang pertama bisa kita usahakan, tapi juga tidak perlu kita pikirkan.

Halaman kedua. Masalah utama seorang penulis adalah menulis. Maka mulailah menulis. Menulis tentang apa saja. Bebaskan diri Anda. Hilangkan semua kekhawatiran. Hapus cepat kata 'jangan-jangan' dari pikiran Anda. Mulailah...

Saat ini keseharian saya berada di sekolah. Malamnya mengampu dua matakuliah. Tapi hanya pada malam rabu, malam kamis dan malam sabtu. Sabtu paginya mengampu satu matakuliah. Saya berlatar pendidikan Ekonomi -Akuntansi. Maka semua tugas mengajar saya di rumpun akuntansi.

Saya mengerti akuntansi sampai ke tahapan lanjutan. Kalau di sekolah, saya mengajarkan akuntansi dengan target peserta didik mampu memahami konsep dasar akuntansi. Sedangkan di perguruan tinggi, target saya hanya bagaimana mahasiswa mendapatkan gairah perkuliahaan secara kondusif dan harapan nanti mereka lulus matakuliah saya dengan berbekal kompetensi bidang akuntansi.

Pada dasarnya akuntansi itu mudah. Menuliskan transaksi-transaksi harian, mengelompokkan dan melaporkan dalam cetakan laporan keuangan. Prakteknya agak sedikit membingungkan. Bagi yang tidak telaten pasti enggan melanjutkan tahapan berikutnya.

Di dunia akuntansi yang saya ambil sebagai praktek profesionalitas adalah ketersambungan antara catatan pertama, kedua, ketiga dan keempat. Jadi bila transaksi pertama di catat sebesar Rp. 10.000 maka pencatatan kedua hingga keempat menunjukkan angka yg sama. Hanya saja terdapat penjumlahan di bagian yang sama. Saya contohkan, penerima uang sebesar Rp. 10.000 di catat di Kas sebesar Rp. 10.000. Penjumlahan berikutnya terjadi kalau terdapat penerimaan uang. Nanti akan saya jelaskan di sesi tulisan yang lain.

Saya mengajar sejak tahun 2007. Saat itu sedang di semester ketiga. Saya ingin bekerja yang tidak menganggu perkuliahaan. Saya tidak pernah berhasrat menjadi guru, melainkan kesempatan diterima mengajar di SMK saya dululah, saya mulai menapaki jalan mengajar.

SMK 11 Maret. Berlokasi di sekitaran daerah Pulo Gadung. Di sampingnya berdiri Bank Mandiri. Di depannya pusat perbelanjaan PTC. Lebih di kenal sebagai semar kawasan industri. Kependekan dari SMK Sebelas Maret.

Mengajar di hadapan murid-murid adalah hal yang baru. Saya sempat gerogi. Bahkan hampir jenuh karena belum menemukan chemistry mengajar. Hari-hari selama mengajar saya lalui dan saya tidak menyadari itu sebagai penyesuaian. Di kepala saya hanya bertengger yang penting bisa bekerja.

Mengajarlah saya hingga sekarang jumlah tempat mengajar terbagi di lokasi Bekasi, Jakarta dan Cileungsi. Saya merasa bahwa mengajar adalah bagian dalam diri saya. Saya ragu untuk menyebut sebagai passion karena saya juga sering merasa jenuh dan kalau kambuh menjadi kurang semangat mengajar dan belajar.

Bahan utama seorang pengajar adalah belajar. Kegiatan belajar meliputi membaca, berfikir, berdiskusi, dan mencari tahu. Saya senang membaca. Hal itu terjadi sejak saya SMP. Ibu bapak saya berlangganan Harian Kompas. Praktis saya lebih banyak membaca Kompas. Ibu malah membelikan buku-buku cerita. Buku yang agak serius yang saya beli waktu sekolah berjudul Habis Fajar Terbitlah Terang. Sebuah catatan harian RA. Kartini. Saya membacanya. Dan karena kapasitas nalar masih low, tidak banyak yang saya resapi. Hanya membaca halaman ke halaman selanjutnya.
Oh iya, ghostboom, serial novel horor juga sudah saya baca. Tapi saya belum bisa menyimpan kesan-kesan setelah membacanya. Mungkin, saat itu membaca yang saya lakukan sebagai latihan untuk dikemudian hari saya membaca buku-buku yang memerlukan daya nalar tinggi dan kemampuan meresap informasi yang tidak terbatas. Ya sekarang saya menyadari sekali pengaruh kebiasaan membaca yg sejak di mulai dulu.

Lalu, saya mulai berani menulis cerpen. Saya pernah mendapat kiriman sepasang sepatu sebagai hadiah hiburan lomba menulis cerita. Seingat saya tiga kali saya menerima surat penolakkan dari Redaksi Harian Kompas. Saat itu saya putus asa. Saya belum menganggap itu sebagai bagian dari proses. Belum menyadari bentuk dukungan redaksi terhadap saya. Maka saya pernah juga sempat iri kepada penulis-penulis yang berusia muda dapat menembus Kompas. Ya wajar saja mereka lolos redaktur. Kualitas tulisan mereka masuk kriteria redaktur, begitu yang saya pelajari saat ini.

Jauh di tahun berikutnya, Saya kembali lagi mengikuti sebuah kompetisi menulis traveling. Saya pilih Kota Tua sebagai tempat eksplorasi. Saya datang ke sana bersama pacar saya, yang sekarang menjadi istri saya. Bersamanya, saya menangkap beberapa moment Kota Tua. Wisata di sore hari di area bersejarah. Bangunan-bangunan pasca kolonial. Hiburan-hiburan setempat. Dan tak lupa sajian kuliner di sana. Saya juga membuat catatan kecil. Beberapa bidikan objek wisata saya jadikan sebagai pendukung ulasan.

Saya selesaikan ulasan traveling itu dengan judul Menutup Senja di Kota Tua. Dua atau tiga bulan setelahnya saya menerima email dari pihak penyelenggara, penerbit Diva Press. Mengabarkan bahwa karya saya masuk dalam tiga puluh nominasi catatan traveling dari seratus lima puluh peserta. Senangnya bukan main saya. Saya sudah merasa seperti penulis sungguhan. Mengikuti lomba itu tidak saya niatkan menjadi penulis.

Tak lama pemberitahuan itu, pihak redaksi mengabarkan saya apakah bersedia jalan-jalan ke Karimunjawa, Jepara. Hadiah utama untuk ketiga pemenang terpilih. Saya mengangguk setuju ketika mbak Rina, redaktur fiksi Diva Press mengabari. Dan saya berangkat ke Jogja untuk memulai perjalanan ke pelabuhan Jepara, menyeberang dengan kapal cepat ke pulau Karimunjawa.
Banyak sudah proses kepenulisan yang saya lalui. Di dalamnya terdapat kegagalan, dan penolakan atas naskah-naskah yang saya kirim baik ke media massa, penerbit dan acara-acara sastra bergengsi.

Saya rasa ini tahun yang tepat untuk meneguhkan eksistensi saya di dunia kepenulisan. Profesi saya memang mengajar. Saya juga menulis. Lalu nanti saya akan mengkurasi sejumlah karya kreatif. Tapi itu pencapaian selanjutnya.

Di awal tulisan ini, tema yang saya tentukan adalah menjadi penulis. Apakah cukup menjadi penulis saja? Ya tidak juga sih. Saya berharap menulis bisa membuka jalan manfaat dan benefit yang seluas-luasnya bagi karir saya. Kalau begitu harapan saya, saya harus merumuskan, entah disebut strategi, metode atau short cut.

Bersamaan dengan itu, sebuah buku menggugah proses kreatif saya. Saya merasa di tantang. Dan saya siap menjejalkan diri dalam tantangan itu. Ini tantangan pertama saya. Saya harus sanggup menuangkan gagasan dalam lima lembar. Maka saya jadikan lembaran di aplikasi tablet sebagai media menuangkan gagasan.

Saya anggap ini sebagai metode pelatihan menulis. Di dua halaman sebelumnya saya mencoba menceritakan profesi saya, bagaimana saya memulai profesi hingga sekarang ini, ulasan pengalaman di bidang tulis menulis. Dan dua halaman tersisa akan saya tuangkan dalam jalinan yang berbeda.

Penulis
Asosiasi kata penulis adalah mereka yang bekerja dengan mengandalkan tulisan. Hasil kerja mereka terukur berdasarkan kualitas dan jumlah tulisan. Penulis bisa itu sebagai esais, prosais atau penyair.
Medan berat mereka ada di tanah garapan menggagas ide, mengolah ide hingga mendistribusikan ide dalam bentuk karya. Mereka juga bermitra dengan penerbit. Mereka yang menggarap kerja kreatif dan penerbit yang mencetak, mengemas sekomersil mungkin, dan dipertaruhkan oleh distributor di toko-toko buku besar.

Penulis mempunyai segmentasi pembaca. Kalau diperluas ke segmentasi pasar, itu wilayahnya penerbit dan distributor (semoga saya tidak salah). Untuk bisa mengenali segmentasi pembaca, maka penulis perlu membaca peta minat pembaca, perlu memahami kecenderungan yang populer saat ini. Dan itu bisa diamati di setiap toko buku.

Tidak sedikit penulis yang menjadi besar karena karya-karyanya laris. Mereka secara halus mengajak para pembaca menyetujui apa-apa yang mereka tuliskan. Untuk hal ini saya termasuk yang terbawa "arus" emosi pasca pembacaan sebuah karya. Keberhasilan seorang penulis hingga sanggup masuk ke ruang kontemplasi para pembacanya membuktikan bahwa dirinya amat terampil.
Posisi saya lebih tepatnya adalah pembaca buku-buku fiksi dan non fiksi. Pengalaman yang terberi setelah menyelesaikan bacaan fiksi dan non fiksi hanya berbeda di ranah imajinasi. Bacaan fiksi begitu imajinatif. Bacaan non fiksi begitu terang dan jangan mencoba di imajinasikan.

Gairah saya tidak lagi sebagai pembaca. Masa saya hanya penikmat karya. Apa susahnya menciptakan karya. Saya tahu bagaimana proses mereka yang mengarang buku. Saya juga sudah baca karya mereka. Saya yakin untuk seperti mereka perlu pembiasaan, latihan mendalam, berfikir kreatif dan menulis dengan durasi panjang. Saya ini sedang menempa diri agar tidak lagi ngos-ngosan menyelesaikan sebuah tulisan. Melatih diri agar tidak merasa sulit menjangkau diksi menjadi kalimat. Membiasakan diri agar mudah menjaring ide. Bukan tidak mungkin dalam dua puluh hari ke depan saya adalah penulis terampil. Kapan saya jadi penulis beruntung? Masih terlalu dini bagi saya.

Apa Perbedaan Penulis Terampil dan Penulis Beruntung?

Orang yang menggeluti bidang tertentu dikatakan terampil dapat terukur dari cara ia menguasai teknik-teknik di dalamnya. Penulis terampil juga begitu. Ada sekian beberapa  teknik menulis yang secara aplikatif saya ketahui. Pertama teknik menulis pendek. Kedua teknik menulis panjang. Yang membedakan keduanya adalah jumlah kata. Teknik menulis pendek populer digunakan sebagai ungkapan. Terdiri dari dua sampai tiga kalimat. Adapun menulis panjang saya biasa sebut seperti esai. Dalam tulisan itu jumlah paragraph relatif banyak dan alur yang menyertainya menjadi penjaga ritmenya sebuah karangan.

Bagi yang belum terbiasa menulis serius cobalah untuk latihan menulis ungkapan. Kata-kata motivasi seperti potongan kutipan pak Mario Teguh. Dengan membiasakan menuangkan isi kepala ke sebuah alenia akan menstimulus fungsi kognisi si penulis itu.

Saya beranggapan bahwa penulis yang terampil pastilah mereka yang sanggup duduk lama menuntaskan karyanya. Mampu menjaga ketekunan. Rapih dalam berkarya. Dan mungkin juga mahir mengoptimalkan waktu seperti dalam hitungan lima belas menit satu paragraph selesai. Jika ia menulis untuk lima lembar halaman kuarto, cukup duduk serius lima belas menit dikalikan lima. Ya kurang lebih satu jam, termasuk editing ringan. Sungguh efektif cara memanage waktu dan begitu efisien memanfaatkan moment.

Penulis beruntung. Sependek pengamatan saya, keberuntungan sangat kecil jatuh ke mereka yang tidak menempa diri. Keberuntungan pada akhirnya seperti arisan. Akan mendapatkan giliran. Berlaku juga di lingkungan literasi. Penulis-penulis bernama besar adalah mereka yang terampil secara teknik, berkarya secara hebat, mutu karya tidak lagi diragukan.

Jadi penulis terampil dengan penulis beruntung menurut saya adalah satu jiwa dalam satu badan. Ia yang terampil, kelak beruntung di waktunya sendiri.
(Saya selesaikan di dua tempat. Di SMK Ananda dan di rumah. Bekasi Kota dan Desa Babelan Kota, 09 Januari 2020)





Mempraktekan Metode Buku Untuk Calon Penulis

Mempraktekan Metode Buku Untuk Calon Penulis
Oleh Bagus Styoko Purwo



Semoga permulaan ini membawa pengaruh besar dalam perkembangan keterampilan saya menulis. Saya masih berambisi menjadi penulis dalam skala luas. Saya mampu menulis opini, feature, cerpen, puisi, novel dan jurnal ilmiah. Mungkin ambisi itu tumbuh bersamaan dengan ketekunan saya di dunia pendidikan. Sebagai guru, tugas pengabdian saya tidak terbatas belajar dan mengajar.

Beruntung saya, di saat keinginan meningkatkan keterampilan menulis, terbitlah sebuah buku yang berjudul buku untuk calon penulis. Di tulis oleh penulis besar. Dulunya ia dikenal sebagai cerpenis. Sekarang dikenal Kepala Suku Mojok.co, investor Warmo -kafe di Jogja, punya penerbitan mayor. Saya sering membaca karya-karyanya di harian Kompas. Saat itu masih di bangku SMP. Saya memaksakan diri terus membaca cerpen-cerpen akhir pekan Kompas meski pemahaman saya terhadap pembacaan itu tidak tercapai. Baru kemudian di hari-hari ini kenikmatan proses membaca yang saya tekuni sejak dulu mendapatkan hasilnya. Membaca bagi saya adalah meruntutkan pesan-pesan kehidupan.

Buku yang memacu saya terus menulis ini, saya coba rumuskan penyederhaannya agar mudah di praktekan. Saya baca semua halaman.  Saya coba pahami setiap bagiannya. Inti-intinya saya dapati. Saya capture di tiga inti pengawalaannya. Lalu saya tulis di note di halaman yang menjelaskan bagian pertama. Untuk memulai sebuah pembiasaan baru, saya di uji dengan keadaan yang dinamis. Beberapa kali saya gagal. Terbawa kesibukan harian. Rumah tergenang banjir kiriman. Hingga kesulitan memanage waktu. Tapi kali ini saya tidak boleh kalah. Dalam dua puluh hari ke depan saya akan khatamkan buku ini. Dan kemajuan keterampilan menulis mutlak saya peroleh.

Rumus penyederhaan dalam buku ini.
1. Dalam setiap bagiannya, terserta lima sampai enam halaman kosong yang dimaksudkan sebagai media menuliskan gagasan. Gagasan yang dituangkan merupakan percikan dari materi (berupa nasehat, ajakan) di setiap bagiannya.
Karena saya bukan orang pintar dan masih susah memahami sesuatu hal, saya baca dua sampai tiga kali pesan di bagian yang hendak dituntaskan. Saya ambil beberapa kata kerja, kata benda, kata sifat atau frase-frase tertentu sebagai kata-kata kunci untuk mengembangkan gagasan. Bagi saya itu sangat penting. Saya kesulitan membagi gagasan secara general. Maka penggunaan kata-kata kunci nantinya, saya anggap sebagai pembagian gagasan. Dan sebelumnya tema utamanya sudah saya peroleh hasil dari membaca pesan.

2. Mulailah menulis berdasarkan kata-kata kunci yang terambil di bagian tertentu. Misalkan, di bagian pertama.

Halaman pertama (Di tulis #1). Sesungguhnya tidak ada penulis hebat. Yang ada hanyalah penulis yang terlatih dan penulis yang beruntung. Yang pertama bisa kita usahakan. Yang kedua bukan hanya tidak bisa kita usahakan, tapi juga tidak perlu kita pikirkan.

halaman kedua. Masalah utama seorang penulis adalah menulis. Maka mulailah menulis. Menulis tentang apa saja. Bebaskan diri Anda. Hilangkan semua kekhawatiran. Hapus cepat kata 'jangan-jangan' dari pikiran Anda. Mulailah...

Dari dua halaman itu saya bisa tentukan kata-kata kunci untuk mengembangkan gagasan/tema.

Gagasan atau tema pada dasarnya sama.
Kata-kata kunci di halaman pertama menurut saya adalah penulis terlatih dan penulis hebat. Dua kata kunci itu saya bagi dalam dua sub gagasan. Sedangkan kata-kata kunci di halaman kedua menurut saya lagi adalah menulislah dan bebaskan diri. Dua kata kunci itu dapat disisipkan dalam dua sub gagasan di atas. Tema yang saya usung adalah menjadi penulis. Judulnya mau seperti apakah saya nanti, penulis terlatih atau penulis beruntung.

Dalam setiap bagiannya rata-rata diberikan space sampai lima lembar halaman kosong. Artinya saya mesti berupaya menyelesaikan tema di atas sampai lima lembar halaman. Proses kreatif yang agak sedikit melelahkan bagi yang belum terbiasa. Perlu kesiapan kosakata dan permainan alur yang rapih. Bagi yang akan memulai agak sedikit terkendala. Namun bila sanggup melewati bagian pertama itu, di bagian-bagian lainnya hanya menyesuaikan saja.

Puthut EA, untuk kali ini menawarkan metode yang tidak melulu teoritis. Ia tidak mengajarkan langkah berbelit-belit untuk sekedar menulis. Bagi penulis pemula, menulislah dan abaikan teori ini itu, adalah upaya memperlancar turunnya kata-kata ke media yang di curahkan. Media pencurahan gagasan saya dalam dua puluh sesi ke depan menggunakan tablet. Saya harus mampu memanfaatkan waktu di berbagai kondisi dan tempat untuk menuntaskan praktek dalam buku ini.

Untuk memperlancar proses kreatif saya dalam menulis, pekerjaan yang telah saya selesaikan adalah membaca sekian karangan Puthut EA. Meski tidak secara tatap muka dan dibimbing secara intens olehnya, agar nuansa belajar begitu erat maka ketiga buku kumcer, tiga karangan novelnya dan sebuah kumpulan cerita sehari-harinya, saya baca dengan seksama. Saya dapati intisari dari semua yang ia kisahkan. Akhirnya saya dapat menulis, tapi masih terbawa pengaruh gaya kepenulisannya. Semoga segera saya dapati gaya kepenulisan saya sendiri.

Bekasi Kota, 09 Januari 2020
(Di selesaikan di sela-sela waktu menunggu peserta didik menyelesaikan studi kasus Usaha Dagang, di pelajaran Komputer Akuntansi)